Sejarah

1.1 Awal Pendirian Fakultas

Perubahan dan perkembangan terus terjadi seiring perputaran zaman. Untuk menjadi institusi yang besar seperti saat ini, banyak proses yang telah dilalui Fakultas Kedokteran Unpad (FK Unpad). Perubahan-perubahan yang dilakukan selalu mengaktualisasi kebutuhan dan keadaan masyarakat saat itu dalam rangka mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Berawal dari Kongres IDI 1953 di Surabaya, Menteri Kesehatan RI pada saat itu dr. Lie Kiat Teng, memaparkan adanya masalah kesehatan Nasional yang terjadi di Indonesia dan penanggulangannya memerlukan pemenuhan jumlah tenaga kesehatan dalam hal ini dokter di setiap daerah. Realisasi gagasan tersebut didukung oleh tokoh masyarakat Jawa Barat dan baru terwujud pada tahun 1956 dengan dibentuknya Yayasan Fakultas Kedokteran Bandung.

Proses pendirian FK Unpad dilandasi oleh semangat gotong royong dan kebersamaan antara pemerintah pusat, daerah dan tokoh kesehatan  masyarakat Jawa Barat serta Rumah Sakit Ranca Badak (RS Hasan Sadikin pada saat itu). Hal ini diperlihatkan dalam kepengurusan Yayasan Fakultas Kedokteran Bandung saat itu terdiri atas dr. H.A. Patah (Ketua), Prof. Dr. Moch. Djuhana Wiradikarta (Wakil Ketua), dr. Chasan Boesoirie (Sekretaris), dr. Djundjunan Setiakusumah, drg.R.G. Soeriasoemantri, R.H. Enuch (Walikota Bandung), dan dr. Moch. Kurdi.

Untuk menunjang pendirian Fakultas Kedokteran, para pengelola Yayasan menghubungi Prof. Sarwono dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Panitia sangat optimis dapat merealisasikannya karena turut mendapat dukungan staf pengajar dari Fakultas Teknik UI (sekarang ITB). Selain itu, untuk pelaksanaan pendidikan dokter di awal pendirian dilakukanlah perekrutan dokter- dokter dari berbagai fakultas kedokteran yang telah ada, antara lain dr. H.W.A.Donhuijsen dan Prof. Koestedjo.

Pada Oktober 1956 dibentuklah Panitia Pembentukan Universitas Negeri di Bandung yang diketuai oleh Prof. H. Moch Jamin. Panitia ini kemudian bergabung dengan Yayasan Fakultas Kedokteran Bandung. Selanjutnya, atas usul drg. Soeriasoemantri, pengurus IDI Jawa Barat pada saat itu diminta untuk duduk dalam kepanitiaan tersebut. Kemudian disepakati dr. Hasan Sadikin dan dr. Moch. Effendie selaku ketua dan sekretaris IDI Jabar sebagai perwakilan dalam kepanitiaan tersebut. Selanjutnya panitia rakyat berubah menjadi panitia negara pembentukan Universitas Negeri di Bandung dan langsung dipimpin oleh R. Ipik Gandamana yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.

Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran resmi berdiri pada tanggal 11     September 1957 yang disahkan melalui Peraturan Pemerintah No. 37/1957 (Lembaran Negara No.9 Tahun 1957) tentang pendirian Universitas Padjadjaran. FK Unpad berdiri bersamaan dengan dua fakultas lainnya, yaitu Fakultas Ekonomi dan Hukum yang merupakan cikal bakal Universitas Padjadjaran.

Pada masa awal berdirinya, FK Unpad hanya memiliki 26 staf pengajar yang sebagian besar berasal dari dokter-dokter yang bertugas di RS Ranca Badak. Dekan yang menjabat pada saat itu adalah Prof. R. Moch. Djoehana Wiradikarta (1957-1962). Jumlah mahasiswa angkatan pertama sebanyak 65 orang dan pada tahun II terjadi peningkatan jumlah mahasiswa menjadi 199 orang. Pendaftaran mahasiswa kala itu, dilakukan di sebuah bioskop di Jln. Merdeka dan tanpa tes sama sekali.

Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan pertama yang digunakan FK Unpad beradadi sisi Jalan Pasir Kaliki. Bangunan tersebut merupakan hibah dari RS. Ranca Badak, yang sebelumnya dibangun khusus pada tahun 1955  oleh pemerintah untuk ruang perawatan bagi peserta Konferensi Asia Afrika. Selain itu, suatu ruangan berdinding bilik bekas gudang RS. Ranca Badak pun digunakan sebagai ruang praktikum anatomi. Dengan segala keterbatasan, proses pendidikan para calon dokter di FK Unpad ketika itu tetap berjalan.

Kurikulum pendidikan mengadaptasi kurikulum Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yakni sistem paket hingga lulus menjadi dokter. Sistem evaluasi belajar dilakukan pada akhir tingkat I, II, dan III untuk menetukan kelayakan mahasiswa melanjutkan pendidikan. Metode perkuliahan tidak jauh berbeda dengan pendidikan di sekolah. Dosen menerangkan kuliah dengan membacakan terjemahan buku teks berbahasa inggris dan berbahasa jerman dilanjutkan dengan diskusi. Perkuliahan umumnya berlangsung tanpa ada alat bantu audio visual. Waktu perkuliahan biasanya dimulai sejak pagi hingga pukul 13.00 dilanjutkan dengan praktikum pada sore hari antara pukul 15.00 s.d.16.00.

Pada 24 Juli 1956, RSRB ditetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) yang pada saat itu kapasitasnya mencapai 600 buah tempat tidur. Pada tahun 1961, angkatan pertama program sarjana mulai masuk fase pendidikan klinik dirumah sakit (koasistensi). Untuk menampung para koasisten ini, sangat dirasakan kebutuhan untuk mendirikan suatu Teaching Hospital. Pada masa tersebut, RSUP berperan dalam menampung para koasisten ini untuk kelanjutkan pendidikannya.

Untuk menunjang pemahaman dalam bidang ilmu kedokteran dasar, selain perkuliahan, dikembangkan juga praktikum. Untuk memfasilitasi peningkatan kebutuhan kuliah dan praktikum ini, FK Unpad mengembangkan beberapa laboratorium yang lokasinya tersebar di beberapa tempat di Bandung  yaituKampus Jalan Dago 248 untuk Laboratorium praktikum kimia, fisiologi dan mikrobiologi, laboratorium parasitologi di Jalan Dipati Ukur serta Kampus Sekolah Pendidikan Guru Taman Kartini Jl. Van De Venter.

Tahun 1961, pemerintah Indonesia memberlakukan wajib kerja sarjana untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli, salah satunya di bidang kesehatan. Keadaan ini dijawab oleh FK Unpad yang telah berhasil meluluskan angkatan pertamanya pada tahun 1965. Sejalan dengan pengembangan di FK Unpad, terutama pada aspek pemenuhan kebutuhan tenaga pengajar, sebagian dari alumni pertama mendedikasikan diri untuk terlibat dalam pendidikan, diantaranya Dr. Agoestina, Dr.Indra Hanafiah Emran, Prof. Iman Supandiman, Prof. Wahju Karhiwikarta, Prof. Ieva Baniasih, Prof. Azhali Manggus Sachrodji, Prof. Tony Safei Djajakusumah, Prof. Enday Sukandar, Prof. Hidajat Widjajanegara, Prof. Sri Hartini, dan Prof. Abdurrachman Sukadi.

Peran aktif almamater dalam usaha memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di tanah air tidak hanya terfokus pada pemenuhan tenaga dokter umum, melainkan juga pada pemenuhan tenaga dokter spesialis melalui pembentukan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Awalnya, pendidikan dokter spesialis dilakukan oleh kolegium masing-masing. Pada tahun 1963, telah dihasilkan dokter spesialis, salah satunya dr.Ramadi dalam bidang Ilmu Penyakit Dalam.

Sejalan dengan pengakuan kepakaran para pendidik di FK Unpad, maka pada tahun 1964 jabatan Guru Besar dianugerahkan kepada Prof. Soemiatno dalam bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat. Pada tahun selanjutnya, gelar guru besar diberikan kepada Prof. Suardi Surjohusodo di bidang Ilmu Penyakit Dalam, Prof. R.M. Sastrawinangun di bidang Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Prof. Koestedjo di bidang Ilmu Bedah dan Prof. Soegiri dalam bidang Ilmu Kesehatan Anak. Melalui penganugerahan guru besar tersebut, maka FK Unpad mulai membenahi program pendidikan dokter spesialis. Di tahun 1980 PPDS mulai diambil oleh universitas, sehingga ijazah kelulusan PPDS dikeluarkan oleh Unpad. Pada tahun yang sama, Unpad termasuk dari tiga universitas yang diberi kewenangan untuk menyelenggarakan PPDS.

1.2 Perubahan Kurikulum Pendidikan Dokter  

Pada masa awal (tahun 1960-an sampai1970-an) lebih banyak ditandai dengan penguatan program, sumber daya dan tatanan internal kelembagaan.

Dimulai dari era kepemimpinan dekan pertama, yakni Prof. R. Moch. Djoehana Wiradikarta (1957-1962), disusul oleh penerusnya dr. Hasan Sadikin (1964-1966), Prof. Soedjatmo Soemowerdojo (1967-1968 dan 19731976),  Prof. Soegiri (1969-1970), dan Prof. Koestedjo (1971-1972), tradisi luhur pendidikan kedokteran mulai di bangun, melalui darma pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pada dekade ini jabatan guru besar kembali dianugerahkan kepada Prof. Sulaiman Sastrawinata dalam bidang Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Prof. Soemartono dalam bidang Ilmu Sinar atau Radiologi, Prof. Topo Harsono dalam bidang Ilmu Patologi, Prof. Saleh Kariadinata dalam bidang Ilmu Mikrobiologi, serta Prof. Soedjatmo Soemowerdojo dalam bidang Ilmu Faal.

Dibawah kepemimpinan dekan ke tujuh, Prof. Topo Harsono (1977-1985), terjadi perubahandan konsolidasi dalam rangka penerapan Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia (KIPDI) dengan menggunakan sistem kredit semester (SKS). Dasar pemikirannya adalah untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan lulusan tenaga kerja kesehatan profesional. Penerapan SKS dimulai pada tahun 1981, berdasarkan hasil pertemuan intern Fakultas Kedokteran Unpad di Jatiluhur. Hal ini sinergis dengan rencana pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk melakukan penataan pendidikan kedokteran dengan standarisasi kurikulum pendidikan secara nasional melalui KIPDI I .

Setelah memenuhi kebutuhan dasar akan tenaga kesehatan, maka proses lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas pendidikan dokter dilaksanakan penyelenggaraan program pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Program S3 Kedokteran berdiri pada tahun 1979. Awal nya jumlah peserta program ini tidak banyak, rata-rata di bawah 10 orang. Situasi mulai berubah sejak tahun 1998 saat FK Unpad mengeluarkan kebijakan dengan memberikan keringanan bagi dosen yang mengikuti program pascasarjana. Perkuliahan pun dapat dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu. Mahasiswa tidak saja datang dari lingkungan FK Unpad melainkan juga dari instansi lain seperti Depkes dan kota-kota lain seperti Palembang,Yogyakarta, dan Banjarmasin.

Semakin kompleksnya permasalahan kesehatan di masyarakat global, memerlukan tenaga kesehatan yang mampu mengembangkan diri sendiri dan beradaptasi sehingga dapat menyelesaikan permasalahan sendiri, tanpa tergantung oleh dosen atau institusi. Dengan kata lain, seorang dokter diharapkan akan terus belajar sendiri sepanjang hayat (self-long life learner). Salah satu model pendidikan kedokteran yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan telah diterapkan di luar negeri adalah student centered melalui pendekatan Problem Based Learning (PBL). Mengantisipasi hal tersebut, maka pada era kepemimpinan Prof. Djamhoer Martaadisoebrata (1985-1988), FK Unpad tidak menyia-nyiakan kesempatan, denganmengirimkan salah seorang stafnya, yaitu Bethy S. Hernowo, Ph.D. dr., SpPA, ketika diundang oleh WHO dalam pertemuan sosialisasi PBL yang diselenggarakan di Jakarta. Hal ini membuka jalan FK Unpad untuk lebih memperdalam ilmu PBL, karena  beliau sebagai peserta terbaik, mendapatkan kesempatan untuk mempelajari PBL lebih lanjut di University of New South Wales, Australia. Program PBL belum dapat dilaksanakan saat itu karena berbagai keterbatasan yang ada. Namun demikian, proses untuk mencapai penerapan sistem PBL di FK Unpad terus berjalan.

Pada masa kepemimpinan dr. Koeswadji (1988-1995) komitmen FK Unpad untuk mengaktualisasikan diri pada dunia pendidikan kedokteran diwujudkan dengan terus menjaga dan meningkatkan kualitas program pendidikan, salah satunya melalui persiapan fasilitas penunjang untuk implementasi kurikulum Student Centered. Bersamaan dengan hal ini, pematangan konsep Student Centered terus dijalankan dan hal ini merupakan cikal bakal berkembangnya kurikulum PBL di FK Unpad.

Pemberlakuan KIPDI II oleh pemerintah pada tahun 1995 kepada seluruh institusi FK di Indonesia bertujuan untuk menstandarisasi program pendidikan dokter umum. Pengaruhnya kepada FK Unpad yang saat itu di bawah kepemimpinan Prof. Ponpon (1995-2000), yaitu memberikan dorongan untuk pengembangan kurikulum pendidikan dokter yang lulusannya mampu bersaing dalam dunia global. Pada tahun tersebut pula kampus Fakultas Kedokteran Unpad untuk penyelenggaraan pendidikan sarjana kedokteran berpindah ke Jatinangor sejalan dengan pengembangan kampus Unpad lainnya. Dengan dukungan Dekan-dekan FK se-Indonesia di bawah koordinasi Consortium of Health Science (CHS), FK Unpad membuat perencanaan untuk menjalankan system PBL. Pelaksanaan sistem PBL mendapatkan kendala dari masalah keuangan yang belum mencukupi. Walaupun demikian, perencanaan ke arah PBL tetap dibuat dengan mencari dukungan dana, sehingga kemudian diusulkan suatu proposal yang disebut Medical Education Improvement Challenging the 21st Century (MEIC-21). Tujuan utama proposal tersebut yaitu: “Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Penelitian Kedokteran melalui Peningkatan Sistem Manajemen Pendidikan Kedokteran dengan Penekanan Utama pada Perkembangan Kedokteran Reproduksi, Lingkungan, dan Pengobatan Tradisional untuk Mengantisipasi Abad 21”.

Melalui proposal tersebut, pada tahun 1999 FK Unpad berhasil meraih dana hibah Quality for Undergraduate Education (QUE Project) dari Bank Dunia melalui Dikti sebesar 1,8 juta USD. Dana ini dimanfaatkan FK Unpad untuk membiayai pengembangan infrastruktur serta peningkatan kualitas stafnya melalui berbagai pendidikan dan pelatihan. QUE Project direalisasikan melalui pembentukan Medical Education Research and Development Unit (MERDU) dan Medical Information Resources Centre (MIR-C). Pembentukan kedua unit tersebut juga menunjang pemenuhan kebutuhan yang tinggi akan informasi serta bertanggung jawab untuk mengembangkan inovasi baru dalam sistem pendidikan kedokteran melalui penelitian.

MERDU mengusulkan kurikulum pembelajaran dengan konsep SPICES yang merupakan akronim dari Student – entered, Problem – based, Community oriented, Early clinicalexposure, Systematic, sebagai dasar pengembangan kurikulum untuk program pendidikan dokter. Sebagai konseptor, pada tahun 2000 dibentuklah tim yang terdiri dari Prof. Dr. Sri Hartini KS Kariadi,dr.,SpPD-KEMD, Prof. Ridad Agoes, dr., MPH.,DAPE., SpParK, Bethy Suryawathy, dr., SpPA (K),Ph.D, Ike MP Siregar, dr., SpKJ(K)., MPH, Dr.med.Tri Hanggono Achmad, dr; dan Mochammad Harris Suhamihardja, dr., MPH yang berusaha menyatukan kurikulum dari semua departemen agar menjadi kurikulum 10 sistem. Kurikulum ini mengintegrasikan klinik dan preklinik serta memperkenalkan lebih awal pengetahuan klinik berupa kasus-kasus dan pelatihan keterampilan pada model atau pasien. Penerapan kurikulum ini dimulai pada program pendidikan sarjana kedokteran, yaitu pada Kelas Pengantar Berbahasa Inggris (KPBI) tahun 2001, sebagai pilot project metode PBL. Pada saat itu pula, FK Unpad mulai menerima mahasiswa asing dari Malaysia dan Timor Leste dengan jumlah kurang lebih 10% dari seluruh mahasiswa. Selaras dengan itu, pengakuan dari Jawatan Perkhidmatan Awam (JPA) Malaysia makin mengukuhkan keberadaan FK Unpad sebagai salah satu institusi pendidikan yang dipercaya dalam menyelenggarakan pendidikan dokter bagi mahasiswa asing. Sejak tahun 2006 telah dibuka program studi pendidikan dokter Twinning Program dengan Faculty Perubatan University Kebangsaan Malaysia sebagai wujud pengakuan Internasional.

Konsep pembelajaran untuk menghasilkan lulusan dokter yang belajar sepanjang hayat dilanjutkan ke tahap pendidikan profesi dokter. Kurikulum pada tahap ini menekankan aspek keterampilan klinik, etika dan profesionalisme serta penerapan evidence-based medicine untuk mencapai kompetensi yang terintegrasi sebagai seorang dokter. Untuk mencapai hal tersebut, proses pendidikan dijalankan dengan menerapkan prinsippendidikan klinik, yaitu experiential, patientbased, preceptor-based, dan community-based.

Sejak Nopember 2005 FK Unpad menerapkan sistem baru dalam pelaksanaan tahap profesi pendidikan dokter yang disebut Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D). Program ini dilaksanakan selama 4 semester dalam 2 tahap, yaitu: Tahap I, yaitu rotasi semua bagian klinik yang terdiri dari 14 bagian, diakhiri dengan ujian di masing-masing bagian serta Tahap II, yaitu Tahap Magang Dokter Muda, dilaksanakan di Rumah Sakit dan Puskesmas Jejaring Pendidikan yang ditunjuk. Evaluasi akhir tahap I dilakukan melalui ujian komprehensif yang terdiri dari dua bagian, yaitu MDE dan Objective Long Case Examination (OLCE). Mahasiswa yang dinyatakan lulus dapat melanjutkan ke tahap II, yaitu Tahap Magang Dokter Muda. Tahap II sesuai dengan aturan KIPDI III (2006), yaitu tahap magang dokter muda diterapkan pendidikan berbasis kompetensi melalui internship atau program kepaniteraan yang melibatkan RS Jejaring pada semester terakhir. Tahap ini berlangsung selama 20 minggu, terdiri dari 16 minggu melakukan kegiatan di Rumah Sakit Jejaring Pendidikan kemudian 4 minggu di pelayanan kesehatan primer(Puskesmas dengan Tempat Perawatan). Selama16 minggu di Rumah Sakit Jejaring ditekankan pada penguasaan kasus di 4 bagian dasar, yaitu Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, serta Ilmu Bedah. Setelah penerapan Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) di bawah koordinasi Komite Internsip Dokter Indonesia (KIDI) maka program ini ditiadakan akan tetapi dilanjutkan dengan pelaksanaan PIDI secara nasional.

Untuk menunjang PBL, FK Unpad melalui MIR-C meningkatkan infrastruktur berupa pengembangan sistem ICT (Information Communication and Technology). Sistem ini bertujuan untuk menyatukan sistem informasi antara FK Unpad (Jatinangor), RSHS, RS. Mata Cicendo, dan kampus Unpad pusat di Jalan Dipati Ukur Bandung. Sistem ini diharapkan dapat mendukung terlaksananya prinsip Student Centered, yaitu memfasilitasi pencarian informasi berkaitan dengan kegiatan belajar.

Sebagai bagian dari pengembangan ilmu Kesehatan, maka Fakultas Kedokteran membuka program studi Ilmu Keperawatan pada tahun 1994. Dengan pembimbingan yang baik maka untuk selanjutnya program studi berkembang menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan sejak tahun 2005.